Linguistik Arab

علم اللغة العربية الحديثة

verba pasif bahasa arab (tinjauan linguistik modern)

Posted by daysubangkit pada Oktober 3, 2011

Salah satu sifat yang dimiliki oleh bahasa yang ada di dunia ialah sifat universal. Maksudnya bahwa dalam setiap bahasa, ada ciri-ciri yang  sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia (Chaer, 1994: 52). Di antara keuniversalan yang sangat kentara adalah bahwa setiap bahasa terbentuk atas bunyi, kata, dan kalimat.

Selain bersifat universal, bahasa juga bersifat unik/spesifik. Ini berarti bahwa setiap bahasa mempunyai ciri mandiri/khas yang tidak dimiliki oleh bahasa yang lain (Chaer, 1994: 51). Ciri khas ini dapat menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, juga sistem alternasi diatesis. Dalam hal ini, baik bahasa Indonesia  (BI) maupun bahasa Arab   (BA) masing-masing memiliki alternasi diatesis, terutama diatesis aktif dan diatesis pasif.

Pembicaraan mengenai diatesis pasif atau dengan istilah lain kalimat pasif, menyangkut minimalnya tiga aspek/tataran bahasa; morfologi, sintaksis, dan semantis. Pada tataran morfologi, pembicaraan mengenai pasif menyangkut bentuk verba dan ketegori verba yang dapat dipasifkan. Pada tataran sintaksis, pembicaraan mengenai pasif menyangkut bentuk atau konstruksi kalimatnya. Sedangkan pada tataran semantik menyangkut masalah makna gramatikal verba pasif.

Mengenai adanya diatesis pasif dalam BA, Keraf (1991: 103) ketika menjelaskan masalah pasif secara universal,  memberikan contoh pasif BA  sebagai berikut:

Qutila              = dia dibunuh

Qutilta             = engkau dibunuh

Qutiltu             = saya dibunuh

Qutilu              = mereka dibunuh

Qutilna            = kami dibunuh

Dalam tata bahasa BA, konstruksi-konstruksi di atas dikenal dengan nama  jumlah mabniyyah li al-majhuli. Sedangkan verbanya disebut al-fi’lu al-mabniyy li al- majhul. Apa yang dikemukakan oleh Keraf di atas menunjukkan bahwa, baik dalam BA maupun dalam BI, terdapat apa yang disebut kalimat pasif.

Ketika mencoba membandingkan bentuk pasif yang terdapat dalam kedua bahasa ini, peneliti menemukan beberapa hal yang perlu untuk diteliti lebih jauh. Dalam Alqur’an surat al-Baqarah juz I misalnya, ditemukan 91 kalimat pasif BI, padahal konstriksi majhul (pasif BA ) -nya hanya 41 kalimat. Diantara kalimat pasif yang ditemukan itu ialah:

No Ayat Terjemah Bunyi Ayat
1 3 (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,

الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون

2 4 dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

والذين يؤمنون بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك وبالآخرة هم يوقنون

3 7 Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

ختم الله على قلوبهم وعلى سمعهم وعلى أبصارهم غشاوة ولهم عذاب عظيم

4 25 Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

 

وبشر الذين آمنوا وعملوا الصالحات أن لهم جنات تجري من تحتها الأنهار كلما رزقوا منها من ثمرة رزقا قالوا هذا الذي رزقنا من قبل وأتوا به متشابها ولهم فيها أزواج مطهرة وهم فيها خالدون

5 28 Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

كيف تكفرون بالله وكنتم أمواتا فأحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم ثم إليه ترجعون

6 61 Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.

وإذ قلتم يا موسى لن نصبر على طعام واحد فادع لنا ربك يخرج لنا مما تنبت الأرض من بقلها وقثآئها وفومها وعدسها وبصلها قال أتستبدلون الذي هو أدنى بالذي هو خير اهبطوا مصرا فإن لكم ما سألتم وضربت عليهم الذلة والمسكنة وبآؤوا بغضب من الله ذلك بأنهم كانوا يكفرون بآيات الله ويقتلون النبيين بغير الحق ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون

7 90 Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.

بئسما اشتروا به أنفسهم أن يكفروا بما أنزل الله بغيا أن ينزل الله من فضله على من يشاء من عباده فبآؤوا بغضب على غضب وللكافرين عذاب مهين

8 105 Orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.

ما يود الذين كفروا من أهل الكتاب ولا المشركين أن ينزل عليكم من خير من ربكم والله يختص برحمته من يشاء والله ذو الفضل العظيم

9 136 Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا وما أنزل إلى إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب والأسباط وما أوتي موسى وعيسى وما أوتي النبيون من ربهم لا نفرق بين أحد منهم ونحن له مسلمون

10 141 Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.

تلك أمة قد خلت لها ما كسبت ولكم ما كسبتم ولا تسألون عما كانوا يعملون

 

Konstruksi pasif BI yang terdapat pada terjemahan ayat di atas  ialah:

  1. …. rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
  2. Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, …;
  3. …  penglihatan mereka ditutup…;
  4. bagi mereka disediakan surga-surgamereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu…. “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.Mereka diberi buah-buahan yang serupa …;
  5. …  kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan;
  6. …. apa yang ditumbuhkan bumi….ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, … tidak dibenarkan;
  7. …  apa yang telah diturunkan Allah, …  siapa yang dikehendaki-Nya …;
  8. Orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian);
  9. “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya;
  10. …baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan;

Bila ditinjau lebih jauh, ternyata kalimat-kalimat pasif di atas memper-lihatkan hal-hal berikut.

Pertama memperlihatkan adanya konstruksi pasif kanonik dan konstruksi pasif persona dalam terjemah Indonesianya. Diantara konstruksi pasif kanonik dimaksud adalah:

  1. Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu;
  2. bagi mereka disediakan surga-surga …;
  3. Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu;
  4. …  kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembal;
  5. … ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan;
  6. … baginya apa yang diusahakanny;.
  7. … kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab.

Dan konstruksi pasif personanya, ialah:

  1. rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka;
  2. … bagimu apa yang kamu usahakan; dan
  3. … apa yang telah mereka kerjakan.

Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi pasif BI tidak terpaku pada bentuk di+V, tetapi juga menggunakan konstruksi persona+V. Lalu apakah klausa semisal  رزقناهم dalam konstruksi ومما رزقناهم ينفقون yang ditejemahkan ke dalam BI menjadi ‘Kami anugerahkan kepada mereka,’ bisa disebut pasif persona BA?

Kedua, di satu sisi, kenyataan di atas memperlihatkan adanya beberapa kekonsistenan dalam penerjemahan pasif BA tipe fu’ila menjadi pasif kanonik BI tipe di+V. Di sisi lain, ia juga memperlihatkan adanya ketidakkonsistenan penerjemahan. Ini terbukti dengan banyaknya kalimat aktif BA yang diterjemahkan pasif di dalam BI.

        Bila pada kasus di atas, penerjemahan terpaku pada penggunaan pasif kanonik tipe di+V dan tipe pasif persona, di tempat lain ditemukan terjemahan yang menggunakan pasif tipe ter+V. Terjemah dimaksud ditemukan pada ayat  pertama surat al-Infithar yang berbunyi إذا السماء انفطرت yang dirjemahkan menjadi “Apabila langit terbelah”.

Pada terjemahan ayat ini, verba infathara (انفطرت) di terjemahkan menjadi ‘terbelah’. Dalam BI, verba ‘terbelah’ termasuk verba pasif karena menggunakan suffiks Ter-. Apakah terjemahan ini menunjukkan bahwa di dalam BA terdapat tipe pasif lain selain tipe fu’ila?

Adanya variasi bentuk verba pasif dalam BA juga ditemukan dalam ayat 28 surat al-Anbiya yang berbunyi:

يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم ولا يشفعون إلا لمن ارتضى وهم من خشيته مشفقون

        Yang diterjemahkan: “Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya”.

Pada ayat ini terdapat verba irtadlaa (ارتضى) yang diterjemahkan menjadi ‘diridai’. Verba ‘diridai’ dapat dipastikan sebagai verba pasif BI. Namun apakah verba irtadlaa yang bertipe if’ta’ala juga menunjukkan adanya bentuk verba pasif BA selain verba tife fu’ila?

Menurut Verhar (1999: 229) bahasa yang mempunyai diatesis pasif memiliki tiga kemungkinan:

  1. Memiliki pasif impersonal  untuk verba intransitif; verba penindak saja, atau verba pengalam bila ada argumen.
  2. Memiliki bentuk pasif impersonal untuk verba transitif dan verba intransitif saja.
  3. Tidak memiliki pasif impersonal sama sekali.

Selain adanya kedua jenis pasif tersebut, pada ayat-ayat Alqur’an di atas juga terdapat konstruksi yang memiliki frasa min + isim (jar majrur) seperti yang masing-masing diterjemahkan sebagai berikut.

  1. أن ينزل عليكم من خير من ربكم   “diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu
  1. وما أوتي النبيون من ربهم apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya.

Kalau dilihat konstruksinya, frasa di atas sangat mungkin untuk ditejemahkan “oleh Tuhan” dan tidak mesti selalu diterjemahkan “dari Tuhan”. Jika alternatif ini bisa diterima, maka kemungkinan adanya agen opsional dalam konstruksi pasif BA sangat memungkinkan.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

kalsifikasi kata BA

Posted by daysubangkit pada Mei 11, 2010

para nuhat qudama arab membagi kata BA menjadi 3 jenis. Albaqori menjadikannya 4 jenis. Tamam Hasan menjadikannya 7 jenis. kenapa yang tiga lebih banyak diikuti?

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

verba pasif BA

Posted by daysubangkit pada Mei 4, 2010

dalam buku -buku tatabahasa Arab hingga saat ini, yang diakui sebagai verba pasif adalah verba yang berfola f-u-i-l-a berserta turunannya. tapi kenapa ya, argumen yang terdapat pada konstruksi berikut disebut fail?
Tuwuffiya Muhammaadun yaumal istnain.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

UMAR BIN KHATTAB

Posted by daysubangkit pada April 27, 2010

CLASTER I

SECERCAH CAHAYA DI HATI UMAR

Siang itu Mekah seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Panasnya seumpama lidah api yang menjulur membakar ubun-ubun hingga telapak kaki. Tanah dan pasirnya yang seakan menguapkan bara neraka menambah keresahan yang menyesakkan dada. Di lorong kecil dekat sebuah rumah bordil, seorang pemuda bertubuh kekar berjalan sendirian di antara gulungan debu sahara yang dihembus angin kencang. Dadanya gemuruh. Hatinya tercabik-cabik. Langkahnya gontai tak terarah. “Dalam memecahkan sebuah masalah, aku hanya punya dua cara; cara pertama mengandalkan tajamnya pedang  dan cara kedua mengandalkan ketajaman logika. Tetapi mengapa kali ini aku tidak bisa memecahkan masalah yang satu ini?… Apa yang telah terjadi pada diriku?” dengan penuh rasa heran dia bertanya dalam hati.

Langkahnya semakin tak terarah. Di kepalanya berkecamuk sejuta pertanyaan yang datang silih berganti tentang seorang pemuda Mekah bernama Muhammad. Jiwa dan pikirannya benar-benar telah terusik. Sebenarnya dia telah berusaha untuk melenyapkan Muhammad agar orang-orang Qurays merasa tentram setelah kepergiannya. Namun setiap kali ia mendekatinya, rasa ragu dan khawatir selalu datang menghantui. Ia merasa bahwa membunuh Muhammad bukan hal sepele. Bahkan sebaliknya, tindakan itu akan menuai badai. Maka tidak heran jika tak seorang pun dari pemuda Qurays yang sanggup membunuh Muhammad. Di samping itu, ternyata setiap kali ia menghunuskan pedang, hati kecilnya selalu berkata “Hai Umar, sarungkan pedangmu! Kalau tidak ….” Kata-kata ini lah yang senantiasa mengurungkan niatnya untuk membunuh Muhammad. Bukan hanya itu, ternyata selama ini Umar tidak pernah bersuara walau hanya sekedar untuk mengatakan bahwa Muhammad berdusta. Bahkan untuk sekedar menyanggah argumen-argumen yang disampaikan oleh Muhammad pun dia tak kuasa. Bahkan logikanya selalu mengatakan bahwa ajaran yang disampaikan oleh Muhammad itu memang benar. … Kasihan kau Umar… Alangkah dilematisnya kehidupanmu itu!

Bukankah Umar dan nenek moyangnya merupakan diplomat yang bertugas menangani berbagai permasalahan orang Qurays? Bukankah mereka terkenal dengan ide-idenya yang cemerlang? Bukankah mereka para pelerai yang senantiasa memuaskan semua pihak? Bukankah Umar sendiri seorang pemuda yang pintar, pandai bersilat lidah, dan memiliki prestise yang sangat tinggi, sehingga ia senantiasa menjadi duta yang diutus untuk menemui kabilah-kabilah dan raja-raja di sekitar kota Mekah?

Sambil memutar otak, kakinya terus melangkah. Angin yang berhembus memaksa pikirannya mengembara mencari setumpuk alasan guna menyalahkan Muhammad. “O ya, kini aku mendapatkannya… Muhammad telah menciptakan sebuah agama yang tak pernah dikenal oleh orang Arab… Muhammad telah membuat kekacauan dan perpecahan yang entah kapan akan berakhir… Muhammad telah mengancam keamanan negara… Muhammad telah berusaha agar adat-istiadat bangsa Arab tercerabut dari akarnya… Muhammad telah berusaha mendirikan kerajaan baru yang akan dikuasai olehnya dan kemudian oleh suku bani Hasyim.

Keinginan untuk membunuh Muhammad muncul lagi. Langkahnya dipercepat. Panas yang membakar tubuhnya tak dihiraukan. Otaknya tak henti berputar.

Ah… Omong kosong… Semua itu bisa saja dibantah dengan mudah oleh Muhammad. Atau mungkin sebaliknya, ia akan mengatakan bahwa ajaranya itu benar. Dia datang untuk mengobati luka lama yang telah membusuk di antara jiwa-jiwa bangsa Arab. Dia hadir demi mengibarkan bendera persaudaraan, keadilan, dan kemerdekaan. Dia diutus demi memurnikan akidah bangsa Arab dari berbagai kemusyrikan dan kekhurafatan…. Lalu…, apa salahnya Muhammad?” Umar merasa bahwa pernyataan-pernyataannya bagai fatamorgana sahara yang jika dikejar menghilang seketika.

Umar! Tuhan itu satu…. Tidak ada kata lain!” Tiba-tiba kata-kata itu terbersit di benak Umar. “Aku tak punya alasan untuk menolak kata-kata itu… Tuhan memang satu! Mungkinkah aku akan mengatakan bahwa Tuhan itu dua, tiga, atau empat? Tidak mungkin!!… Bisa-bisa dianggap gila kalau aku mengatakan bahwa Tuhan itu dua atau tiga atau lebih dari itu… Tetapi Muhammad mengatakan bahwa semua hamba sahaya itu saudara kita.… Dia membuat aturan baru yang sangat bertentangan dengan kebiasaan orang Arab. Bilal dibilang sederajat dengan Abu Bakar…, sama dengan Umar…, bahkan sejajar dengan Abu Jahal, Abu Sufyan, atau Abu Lahab. Demi Tuhan walaupun sampai kiamat, pernyataan Muhammad itu tak pantas diucapkan… Itu kesalahan besar! Aku tidak mungkin menerima paham-paham yang aneh seperti itu…

Dada Umar semakin sesak. Hatinya remuk redam. Langkahnya semakin tak terarah. Dengan penuh kekesalan ia berteriak “Tuhan!! Kemanakah kakiku harus melangkah? Di mana adanya kebenaran? Tuhan!!… Aku rela mengorbankan diriku demi mendapatkan sebuah kebenaran. Coba Kau lihat! Kekacauan menyelimuti Kota Mekah. Pojok-pojok kota penuh dengan omongan-omongan yang memekak telinga. Jalanan penuh dengan pernyataan yang tidak pasti. Semak-semak tertutup debu. Aku haus akan kebenaran… tapi aku tak tahu ke mana harus pergi. Tuhan! Belenggu dan rantai yang mengikat kakiku terasa begitu berat. Kakiku seakan tertancap dalam tanah. Aku tak sanggup lagi melangkahkan kaki ini…  Aku tak mungkin dapat terbang di angkasa sana seperti yang selalu kudambakan…. Rumah-rumah terlelap dalam tidur dan hanya melahirkan rasa bosan dan kesal.…, kaku bagai terselimuti rasa dingin hingga begitu malas untuk bergerak. Di manakah hari-hari yang tenang, damai, dan penuh kasih sayang? Di manakah pasar Ukadz tempat berkumpul para saudagar, penyair, dan sastrawan? Hai Umar!… pertemuan itu tidak akan terulang lagi kecuali jika perpecahan telah selesai. Tak akan ada lagi syair atau karya sastra lain kecuali kalau telinga dan hati membutuhkannya… Dan kau sendiri, kini hanya bisa berdiri dengan tubuh yang kekar, namun bagai sebuah menara yang menjulang tinggi tapi tak punya arti. Engkau merasa bangga dengan kepalamu yang sebenarnya hanya dipenuhi oleh rasa gelisah, resah, ragu, dan sejuta rasa lain yang  tidak kau kehendaki.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Fiqh Lughah Versus Ilmu Lughah

Posted by daysubangkit pada April 27, 2010

Oleh : Dayudin

Terdapat beberapa nama yang biasa digunakan oleh para ahli  bahasa untuk menamai ilmu yang berurusan dengan bahasa.  Banyaknya nama itu disebabkan oleh banyaknya ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya. Menurut Sudaryanto (1996) minimalnya ada lima macam ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya, yaitu:

  1. ilmu tentang bahasa atau ilmu-ilmu tentang aspek-aspek bahasa. Dalam hal ini bahasa digunakan dalam arti harfiah;
  2. ilmu atau ilmu-ilmu tentang bahasa. Dalam hal ini bahasa digunakan dalam arti metaforis;
  3. ilmu atau ilmu-ilmu yang salah satu dasarnya bahasa. Kadang dalam hal ini bahasa menjadi dasar utama;
  4. ilmu atau ilmu-ilmu tentang pendapat mengenai bahasa, dan
  5. ilmu atau ilmu-ilmu tentang ilmu bahasa atau ilmu-ilmu mengenai ilmu bahasa.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Linguistik | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.