Linguistik Arab

علم اللغة العربية الحديثة

UMAR BIN KHATTAB

Posted by daysubangkit pada April 27, 2010

CLASTER I

SECERCAH CAHAYA DI HATI UMAR

Siang itu Mekah seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Panasnya seumpama lidah api yang menjulur membakar ubun-ubun hingga telapak kaki. Tanah dan pasirnya yang seakan menguapkan bara neraka menambah keresahan yang menyesakkan dada. Di lorong kecil dekat sebuah rumah bordil, seorang pemuda bertubuh kekar berjalan sendirian di antara gulungan debu sahara yang dihembus angin kencang. Dadanya gemuruh. Hatinya tercabik-cabik. Langkahnya gontai tak terarah. “Dalam memecahkan sebuah masalah, aku hanya punya dua cara; cara pertama mengandalkan tajamnya pedang  dan cara kedua mengandalkan ketajaman logika. Tetapi mengapa kali ini aku tidak bisa memecahkan masalah yang satu ini?… Apa yang telah terjadi pada diriku?” dengan penuh rasa heran dia bertanya dalam hati.

Langkahnya semakin tak terarah. Di kepalanya berkecamuk sejuta pertanyaan yang datang silih berganti tentang seorang pemuda Mekah bernama Muhammad. Jiwa dan pikirannya benar-benar telah terusik. Sebenarnya dia telah berusaha untuk melenyapkan Muhammad agar orang-orang Qurays merasa tentram setelah kepergiannya. Namun setiap kali ia mendekatinya, rasa ragu dan khawatir selalu datang menghantui. Ia merasa bahwa membunuh Muhammad bukan hal sepele. Bahkan sebaliknya, tindakan itu akan menuai badai. Maka tidak heran jika tak seorang pun dari pemuda Qurays yang sanggup membunuh Muhammad. Di samping itu, ternyata setiap kali ia menghunuskan pedang, hati kecilnya selalu berkata “Hai Umar, sarungkan pedangmu! Kalau tidak ….” Kata-kata ini lah yang senantiasa mengurungkan niatnya untuk membunuh Muhammad. Bukan hanya itu, ternyata selama ini Umar tidak pernah bersuara walau hanya sekedar untuk mengatakan bahwa Muhammad berdusta. Bahkan untuk sekedar menyanggah argumen-argumen yang disampaikan oleh Muhammad pun dia tak kuasa. Bahkan logikanya selalu mengatakan bahwa ajaran yang disampaikan oleh Muhammad itu memang benar. … Kasihan kau Umar… Alangkah dilematisnya kehidupanmu itu!

Bukankah Umar dan nenek moyangnya merupakan diplomat yang bertugas menangani berbagai permasalahan orang Qurays? Bukankah mereka terkenal dengan ide-idenya yang cemerlang? Bukankah mereka para pelerai yang senantiasa memuaskan semua pihak? Bukankah Umar sendiri seorang pemuda yang pintar, pandai bersilat lidah, dan memiliki prestise yang sangat tinggi, sehingga ia senantiasa menjadi duta yang diutus untuk menemui kabilah-kabilah dan raja-raja di sekitar kota Mekah?

Sambil memutar otak, kakinya terus melangkah. Angin yang berhembus memaksa pikirannya mengembara mencari setumpuk alasan guna menyalahkan Muhammad. “O ya, kini aku mendapatkannya… Muhammad telah menciptakan sebuah agama yang tak pernah dikenal oleh orang Arab… Muhammad telah membuat kekacauan dan perpecahan yang entah kapan akan berakhir… Muhammad telah mengancam keamanan negara… Muhammad telah berusaha agar adat-istiadat bangsa Arab tercerabut dari akarnya… Muhammad telah berusaha mendirikan kerajaan baru yang akan dikuasai olehnya dan kemudian oleh suku bani Hasyim.

Keinginan untuk membunuh Muhammad muncul lagi. Langkahnya dipercepat. Panas yang membakar tubuhnya tak dihiraukan. Otaknya tak henti berputar.

Ah… Omong kosong… Semua itu bisa saja dibantah dengan mudah oleh Muhammad. Atau mungkin sebaliknya, ia akan mengatakan bahwa ajaranya itu benar. Dia datang untuk mengobati luka lama yang telah membusuk di antara jiwa-jiwa bangsa Arab. Dia hadir demi mengibarkan bendera persaudaraan, keadilan, dan kemerdekaan. Dia diutus demi memurnikan akidah bangsa Arab dari berbagai kemusyrikan dan kekhurafatan…. Lalu…, apa salahnya Muhammad?” Umar merasa bahwa pernyataan-pernyataannya bagai fatamorgana sahara yang jika dikejar menghilang seketika.

Umar! Tuhan itu satu…. Tidak ada kata lain!” Tiba-tiba kata-kata itu terbersit di benak Umar. “Aku tak punya alasan untuk menolak kata-kata itu… Tuhan memang satu! Mungkinkah aku akan mengatakan bahwa Tuhan itu dua, tiga, atau empat? Tidak mungkin!!… Bisa-bisa dianggap gila kalau aku mengatakan bahwa Tuhan itu dua atau tiga atau lebih dari itu… Tetapi Muhammad mengatakan bahwa semua hamba sahaya itu saudara kita.… Dia membuat aturan baru yang sangat bertentangan dengan kebiasaan orang Arab. Bilal dibilang sederajat dengan Abu Bakar…, sama dengan Umar…, bahkan sejajar dengan Abu Jahal, Abu Sufyan, atau Abu Lahab. Demi Tuhan walaupun sampai kiamat, pernyataan Muhammad itu tak pantas diucapkan… Itu kesalahan besar! Aku tidak mungkin menerima paham-paham yang aneh seperti itu…

Dada Umar semakin sesak. Hatinya remuk redam. Langkahnya semakin tak terarah. Dengan penuh kekesalan ia berteriak “Tuhan!! Kemanakah kakiku harus melangkah? Di mana adanya kebenaran? Tuhan!!… Aku rela mengorbankan diriku demi mendapatkan sebuah kebenaran. Coba Kau lihat! Kekacauan menyelimuti Kota Mekah. Pojok-pojok kota penuh dengan omongan-omongan yang memekak telinga. Jalanan penuh dengan pernyataan yang tidak pasti. Semak-semak tertutup debu. Aku haus akan kebenaran… tapi aku tak tahu ke mana harus pergi. Tuhan! Belenggu dan rantai yang mengikat kakiku terasa begitu berat. Kakiku seakan tertancap dalam tanah. Aku tak sanggup lagi melangkahkan kaki ini…  Aku tak mungkin dapat terbang di angkasa sana seperti yang selalu kudambakan…. Rumah-rumah terlelap dalam tidur dan hanya melahirkan rasa bosan dan kesal.…, kaku bagai terselimuti rasa dingin hingga begitu malas untuk bergerak. Di manakah hari-hari yang tenang, damai, dan penuh kasih sayang? Di manakah pasar Ukadz tempat berkumpul para saudagar, penyair, dan sastrawan? Hai Umar!… pertemuan itu tidak akan terulang lagi kecuali jika perpecahan telah selesai. Tak akan ada lagi syair atau karya sastra lain kecuali kalau telinga dan hati membutuhkannya… Dan kau sendiri, kini hanya bisa berdiri dengan tubuh yang kekar, namun bagai sebuah menara yang menjulang tinggi tapi tak punya arti. Engkau merasa bangga dengan kepalamu yang sebenarnya hanya dipenuhi oleh rasa gelisah, resah, ragu, dan sejuta rasa lain yang  tidak kau kehendaki.

Jarak yang sudah ditempuh cukup jauh. Di ujung jalan dekat sebuah rumah bordil, kaki Umar terhenti. Matanya jelalatan. Kepalanya terasa semakin berat.

“Kemanakah aku harus pergi???” Umar teriak lantang sekali. Suaranya terbawa hembusan angin menerobos celah-celah setiap rumah.

“Hahaha…” Dari arah belakang, suara tawa seorang wanita separuh baya mengagetkan Umar. “Umar, sebenarnya kau tahu ke mana kakimu harus melangkah! Jalan ke rumahku terbentang luas. Kakimu tidak akan salah melangkah untuk ke sana. Tempat itu sudah kau kenal betul…”

Sontak Umar membalikan tubuh “Hai… kau rupanya!”

“Benar… ini aku! Haruskah aku berjalan lebih dahulu? Umar, di rumahku akan kau dapati kata-kata yang indah, gurauan yang menyenangkan, dan gelas minuman yang dapat menyejukkan jiwa.” Wanita itu merayu Umar.

Sesaat Umar terpaku. Ia tak yakin dengan apa yang ia dengar. Hatinya  masih ragu ke mana ia harus melangkah. Perasaan itu tak pernah muncul sebelumnya, tapi kini datang tiba-tiba…. Apa yang telah terjadi pada diri Umar?

Dosa apa yang telah kuperbuat?” Umar bertanya dalam hati.

“Tampaknya kau harus dipapah,” sambil menggapai tangan Umar si wanita melanjutkan kata-katanya, “Mari, kuantar ke rumahku….

(TDK TERBACA)…

….beberapa orang yang mempunyai masalah lebih berat dari yang kau rasakan kini,  telah menyelesaikannya di rumahku…

“Apa manfaatnya seseorang yang telah beristri datang ke rumahmu?” Umar mencari alasan.

* * *

Umar duduk di atas sofa di pojok sebuah ruangan. Tak lama kemudian si wanita membawa sebotol minuman dan dua  buah gelas. Sesaat Umar memandang  botol itu. Lalu berkata “Mengapa hingga kini Muhammad tidak mengharamkan arak?

“Hahaha…” suara tawa si wanita memecah keheningan. “Dia memberikan kesempatan kepada orang-orang yang bingung dan orang-orang yang tertindas… Bukankah mereka juga butuh kepastian dan kebahagiaan? Semua itu tak mungkin didapat kecuali dengan arak…. Tapi kau perlu tahu, bahwa arak yang mengalir di nadiku tidak lagi berpengaruh apa-apa terhadapku,” si wanita mencoba menjelaskan.

Beberapa saat Umar tak mempedulikan omongan si wanita. Matanya masih menampakkan keraguan.

“Orang yang bingung dan tertindas tidak membutuhkan arak… Muhammad  tidak percaya dengan kesenangan yang sesaat… Dia telah menawarkan kebahagiaan yang sesungguhnya…. di sana, di dunia sana, terdapat surga bagi para pengikutnya … Kau percaya dengan semua itu?”

“Apa manfaatnya bagiku?” dengan kesal si wanita balik nanya .

Dengan tangannya yang kekar, Umar menarik wanita itu kepelukannya. Si wanita tak berontak. Ia menyangka bahwa Umar akan menikmati keindahan tubuhnya. Perkiraan si wanita salah.

“Mengapa Tuhan mungutus Muhammad?” Umar membentak.

Wanita itu terperanjat. Napasnya memburu. Matanya melotot.

“Tanya saja Muhammad atau yang mengutus dia..!” jawabannya ketus.

“Mengapa bukan aku yang diutus sebagai Nabi? Bukankah aku seorang pahlawan dan diplomat Qurays?”

“Dasar….!” Si wanita tak bisa menjawab.

“Aku tidak pernah membenci Muhammad! Yang aku herankan mengapa sejuta pertanyaan mengenai Muhammad datang silih berganti sejak pagi sampai malam. Padahal aku tahu, dia itu orang yang jujur dan dapat dipercaya. Bahkan mungkin dia orang Mekah yang paling baik… Aku penasaran ingin tahu kriteria apa yang digunakan untuk menjadikan seseorang sebagai  Nabi”

Beberapa saat  wanita itu memandang Umar. Gelas yang penuh minuman ditegukknya beberapa kali.

“Umar,  pertanyaan itu aneh sekali! Aku tak mungkin dapat menjawabnya. Yang aku tahu hanya tentang musik, nyanyian, dan melayani laki-laki… Aku tak banyak tahu tentang Tuhan!”

Sejenak ucapan wanita itu terhenti. Suasana jadi hening.

“Kenapa kau begitu peduli dengan urusan Muhammad? Pengikut Muhammad itu hanya segelintir orang lemah. Mengapa kau begitu terganggu? Memang benar… sekarang ini pembicaraan mengenai Muhammad dan para pengikutnya memenuhi seluruh pelosok kota Mekah, tetapi mengapa tidak dibiarkan saja sehingga mereka dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat, lalu masing-masing berjalan pada jalannya dengan penuh kemerdekaan? Yang aku dengar dari apa yang diucapkan Muhammad, tidak lebih dari kata-kata baru seperti Allah, malaikat, manusia, dunia, akhirat, surga dan neraka. Apa bahayanya kata-kata itu?”

“Hahaha…” Umar terbahak. “Memang kata-kata itu kedengarannya sangat sederhana, tetapi mengandung arti yang sangat dalam. Kata-kata itu adalah kata-kata sihir yang telah menyebabkan dunia terpilah-pilah sejak dunia ini diciptakan. Kata-kata itu telah mengubah bentuk kehidupan manusia. Bahkan mengubah persaan, akal, dan karakter manusia…. Paham yang kumaksud?” Umar menjelaskan.

Si wanita menuangkan lagi arak ke dalam gelas. Umar meneruskan omongannya “Alangkah banyaknya manusia yang telah pikun… bahkan Abu Sufyan, seorang yang pandai dan sebagai pemuka masyarakat, keluar dari rumahnya sambil berteriak-teriak di jalanan. Dia mengumpulkan penduduk Mekah hanya sekedar untuk menyampaikan cerita-cerita yang menggelikan kepada para pemuka Mekah… Apa yang telah terjadi? Apakah seluruh manusia telah menjadi gila?

Wanita itu menyodorkan gelas lagi sambil berkata “Minumlah lagi, agar pikiranmu jadi tenang!”.

“Orang-orang yang bingung… orang yang sedih…” Lagi-lagi Umar menceracau sambil meneguk minumannya beberapa kali. “Hai wanita, apa kau ingat bahwa kabilah kita, kabilah ‘Adiy, pernah melawan kabilah Abdussyams… padahal jumlah kita hanya sedikit? Yang kutahu, ayahku sendiri tidak pernah melawan mereka…. Kabilah Abdussyams mengalahkan kabilah ayahku hingga mereka harus mundur ke daerah Shafa. Di sana mereka meminta bantuan kepada Bani Sahm untuk melindungi mereka sepenuhnya. Akhirnya mereka hidup berdampingan. Kenyataan ini sungguh merupakan sebuah aib yang sangat besar…”

“Memang benar, dunia ini milik mereka yang kuat. Aku sering berfikir dan bertanya-tanya, mengapa orang-orang Arab tidak menolong kita? Mengapa orang-orang Mekah tidak mengcegah kabilah Abdussyams agar tidak melampaui batas? … Tetapi begitulah kenyataannya, kemenangan senantiasa jadi milik mereka yang  kuat… Kita ini orang miskin dan hanya terdiri dari beberapa gelintir saja” Umar menyesali nasibnya.

Sambil meraih gelas minuman Umar berkata “Apa yang diinginkan Muhammad? Apakah ia ingin melindungi orang-orang miskin dari dominasi orang-orang kaya? Ah… itu cerita lama… seperti biasa… ada sekelompok manusia yang mengalahkan kelompok lain, lalu suatu hari nanti, orang kuat menjadi lemah dan sebaliknya orang lemah jadi kuat. Penderitaan baru pun datang menggantikan duka lama”

“Apakah seperti itu yang diinginkan oleh Muhammad?” Si wanita menyela omongan Umar. “Kalau memang benar itu tujuannya, pasti aku jadi orang yang paling pertama mempercayainya. Umar, bicaralah yang benar!… Kau benar-benar mabuk hingga omonganmu ngelantur” Si wanita meneruskan ucapannnya.

“Bukan… bukan itu. Aku mengada-ngada saja… Muhammad tidak mau hal itu terjadi… Kenapa pula aku harus bohong? Yang benar bahwa Muhammad pernah mengatakan bahwa manusia itu sama, sejajar, dan sederajat. Manusia bagaikan sebuah sisir…. Kamu mengerti maksudnya? Iya, seperti gigi sisir…! Tampaknya ia ingin membatasi dominasi orang-orang yang kuat, kemudian membalas kekejaman mereka. Dan pada saat itu dia mengangkat status orang-orang lemah hingga akhirnya semua bertemu pada derajat yang sama yang melahirkan kedamaian, ketenangan, dan persaudaraan…”

“Kalau begitu, tujuan Muhammad itu sangat mulia” Si wanita menyimpulkan.

“Hahaha…” Umar terpingkal-pingkal dan hampir terjerembab. “Kini ternyata kau dapat menyimpulkan bahwa kata-kata yang kau anggap sederhana itu memiliki makna yang sangat dahsyat…”

“Ya… ternyata kata-kata itu memang sangat mulia…,” si wanita  berusaha meyakinkan.

Umar mengepalkan tangan dan memukul-mukulkannya ke atas lantai sambil berkata “Inilah yang membingungkanku dan selalu menyiksaku…”

“Apa ruginya bagi kita kalau Muhammad sukses?” si wanita bertanya mencari alasan.

“Kau ingin mengatakan bahwa kita akan meraup keuntungan besar?” Umar balik nanya.

“Tepat sekali!”

“Muhammad itu tidak berpikir untung rugi… ukuran dia adalah benar atau salah…, kufur atau iman…, cahaya atau kegelapan…, surga atau neraka. Barang siapa yang mencari kebenaran lalu percaya pada kebenaran itu, maka ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Tujuan satu-satunya adalah kebenaran…, kebenaran adalah keuntungan…, materi tidak jadi target. Mereka menggunakan ukuran lain… Jelas?”

Diam-diam si wanita melepaskan pakaian luarnya satu persatu. Tubuhnya yang sintal tampak jelas. Saat Umar selesai bicara, si wanita menghampirinya dengan  baju dalam yang transparan hingga lekuk-lekuk tubuhnya tampak sangat jelas.

“Umar…bicaralah tentang cinta!” dengan penuh kemanjaan si wanita merayu sambil menyandarkan tubuhnya di dada Umar yang berbulu lebat.

Dengan tangan sedingin salju, Umar menghempaskan tubuh wanita itu. Dari mulutnya terucap “Orang-orang yang bingung… orang-orang yang sedih…” Umar lagi-lagi menceracau.

“Umar!!!”

“… dan surga yang dijanjikan…” Umar meneruskan kata-katanya

“Apa kau sudah gila?”

Tanpa memperdulikan pertanyaan si wanita, Umar melanjutkan kata-katanya “… Mereka telah menghadapi berbagai penderitaan dan siksaan, namun mereka tak pernah melepaskan lagi keyakinan mereka. Mereka disiksa dan dibunuh. Mereka mengungsi ke Etiopfia hingga para pembesar Mekah tak mampu menghancurkan keyakinan mereka… Segala sesuatu yang ada di atas bumi ini pasti akan hancur…, akan musnah. Abu Sufyan akan hancur. Abdusyams akan musnah. Kedua mataku menerawang… Aku melihat keajaiban…  Hai wanita, aku pernah berkelana di berbagai negeri. Aku bertemu dengan para raja dan pemimpin negara. Aku pernah diskusi dengan orang Kristen dan Majusi. Aku mendengar berbagai ajaran dari para pendeta dan rahib… mereka semua hidup di dunia yang sempit dan gelap gulita… Ya, walaupun apa yang mereka katakan dalam beberapa hal ada benarnya, tetapi apa yang dikatakan oleh Muhammad sangat beda… Aku melihat ada kesejukan dalam matanya… dalam raut mukanya kutemukan tanda-tanda kebesaran… dan dari gerak-geriknya terlihat cahaya Ilahi…”

“Hai Umar, apa yang telah terjadi pada dirimu?” si wanita bingung mendengar kata-kata Umar.

Umar tidak peduli dengan pertanyaan si wanita. Ia meneruskan kata-katanya “Muhammad membingungkanku… Apakah dia seorang tukang sihir? Atau seorang dukun? Atau seorang sastrawan yang pandai bicara?” Kepala Umar semakin berputar. Tubuhnya terkulai pada punggung si wanita.

“Hai Umar, omonganmu makin kacau…. Aku memintamu berbicara tentang cinta. Kenapa kau malah berbicara tentang dukun, ahli sihir, atau… filosof? Aku tidak mengerti semua itu! Kau telah membuang-buang waktu hanya sekedar untuk ngigau..”

“Aku akan membunuh Muhammad!!” tiba-tiba Umar teriak keras sekali.

“Apa??”

“Oo…tidak… tidak apa-apa”

“Hai Umar, apa maumu? Kadang kau ingin mengikuti ajaran Muhammad, tetapi kadang kau juga meragukan Muhammad… Aku tak mengerti jalan pikiranmu. Kau benar-benar telah mabuk…!”

“Apa kau ingin aku berbicara tentang cinta?”

Dengan wajah yang sumringah si wanita menjawab “Ya!”

“Cinta…. Menurutku, cinta yang kau inginkan adalah seteguk arak… zat yang merusak jiwa dan raga. Cinta yang kuinginkan bukan itu… Abdusyams hanya mencintai dirinya sendiri ketika mereka mengusir bapakku dan kabilahnya. Demi cintanya pada kekuasaan dan harta, Abu Sufyan dan orang-orang Qurays rela menyakiti Muhammad dan para pengikutnya…  Yang kau cintai hanya kesenangan dan kenikmatan duniawi. Kau hambur-hamburkan waktu…, kau bunuh rasa  takut…, kau manja  gejolak jiwa dengan segelas arak atau dengan pelukan seorang laki-laki. Semua itu bukan cinta…”

“Umar!! Pintu terbuka lebar… silahkan keluar dari rumahku! Kau telah menghabiskan waktuku dan memusingkan kepalaku…,” si wanita marah sambil menuding Umar.

Umar bangun dari tempat duduknya. Beberapa saat kakinya tak beranjak. Matanya terbuka lebar. Sambi menghampiri si wanita ia mengangkat tanganya.

“Plak…!!” Umar mendaratkan tangannya di muka si wanita.

“Suara perempuan tidak boleh keras-keras… juga tidak boleh kasar… itu tidak sopan..!!!” ujar Umar sambil melangkah ke luar rumah.

* * * * *

Klaster  2

DAN CAHAYA PUN

MENEYERTAI KELAHIRANNYA KEMBALI

Umar mencari khabar tentang keberadaan Muhammad. Mukanya bagai malaikat penjaga neraka. Hatinya dagdigdug. Napasnya memburu. Sepertinya tak kan seorang pun mampu menghalangi-halangi atau mengurungkan niatnya. Namun di hati kecilnya masih terbersit perasaan was-was dan sedikit ragu. Ia terus berusaha untuk menepis semua rasa itu dengan dalih ingin mengakhiri semua penderitaan yang dirasa oleh orang Qurays, dan agar para pengikut Muhamad tidak bisa mengungsi lagi ke Etiofia atau ke tempat lain. Ia ingin segala kekacauan dan pembicaraan tentang Muhammad yang menyakitkan itu segera berakhir.

Saat itu Muhammad sedang berada di rumah Al-Arqam ibn Al-Arqam di daerah Shafa beserta 40 orang pengikutnya.

Aku harus membunuhnya. Aku tak kan ragu-ragu lagi. Aku harus melenyapkan orang yang sok jagoan itu…, orang yang telah mencabik-cabik persatuan orang Mekah. Gara-gara dia, seorang anak berpisah dengan orang tuanya… seorang istri meninggalkan suaminya… seorang budak melawan majikannya… Muhammad benar-benar telah mengahancurkan sendi-sendi kehidupan orang Qurays. Aku harus membunuhnya. Andai dia itu benar seorang Nabi, pasti Tuhan akan melindunginya…. Setelah itu orang-orang akan mengatakan bahwa Umar ibn Khattab membunuh seorang Nabi… Wow betapa hebohnya berita itu!… dan memang siapa lagi yang dapat melakukan itu selain aku? Mereka juga akan mengatakan, Umar telah mempertahankan persatuan dan persaudaraan orang-orang Arab… Memang hanya aku yang dapat melakukan itu!” Umar berusaha meyakinkan dirinya.

Langkah Umar semakin cepat. Terik sinar matahari menambah panas yang membakar jiwanya. Sebuah pedang yang panjang dan sangat runcing tersampir di pinggangnya. Memang demikian, karena bagi Umar, pedang adalah segalanya dalam menangani berbagai permasalahan. “… Namun apakah darah yang mengalir dan berceceran di atas kerikil akan cepat mengering? Tidak kah semua itu akan melahirkan masalah baru? Itu pasti… Tapi ketenangan dan kedamaian Mekah harus ditebus dengan sebuah pengorbanan” Umar membayangkan dirinya sedang menghunus pedang…. mengangkatnya di atas kepala Muhammad lalu secepat kilat pedang itu memisahkan kepala Muhammad dari badannya. “… tapi apa yang terjadi? Wajah Muhammad malah berseri-seri… ia malah tersenyum… bahkan memancarkan sinar yang aneh…” Perasaan ragu kini muncul lagi pada diri Umar. Ia berusaha menepisnya..

Umar mempercepat langkahnya, tetapi rasa ragu dan khawatir tak henti-henti bergejolak. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan rasa itu.

Aku harus membunuh Muhammad!” Umar memantapkan niatnya.

Di pinggiran sebuah jalan seorang pemuda memperhatikan gerak-gerik Umar.

“Umar, mau kemana kau?” si pemuda menyapa Umar

“Siapa? O. Na’im! Ada perlu apa??” Umar menyelidik.

“Aku melihat wajahmu sangat masam. Di pinggulmu tersampir pedang. Aku takut kalau-kalau telah terjadi sesuatu,” Na’im menjelaskan maksudnya.

Umar berhenti sejenak lalu berkata “Aku akan membunuh Muhammad!” suaranya nyaring seakan ingin didengar oleh orang yang ada di sekitarnya.

“Celakalah kau Umar…  setahuku kau ini orang pandai… orang cerdas….”

“Memang benar!” Lagi-lagi Umar memotong kata-kata Na’im.

“Aku harap kau jangan tergesa-gesa! Jangan mengambil keputusan ketika kau sedang marah!”

“Apa ruginya? Muhammad itu sama saja dengan kita. Dia makan, minum, tidur, dan juga kawin!”

“Ya,  tepat sekali apa yang kau katakan. Dia memang begitu. Hanya saja dia seorang Nabi. Seorang Rasul. Kau berhak untuk tidak mempercayai kata-kata Muhammad…, lagi pula Muhammad tidak pernah membalas kejelekan orang lain. Balasan selalu ia serahkan kepada Allah. Sebuah kenyataan yang..…”

“Aku akan membunuhnya sekarang juga.” Umar memotong kata-kata Na’im.

“Tapi Muhammad tidak akan melawanmu.”

“Mudah-mudahan kali ini ia melawan, hingga aku lebih mudah untuk membunuhnya”

“Dia itu mengajakmu dengan cara menggunakan logika. Menyeru manusia dengan kata-kata. Jika kau menjawabnya dengan pedang, maka itu menunjukkan kelemahanmu. Dan dengan demikian ia dapat membuktikan kehebatan dakwahnya.”

“Hahaha…” Umar tertawa terbahak-bahak lalu berkata “Mengapa kau berkata begitu? Muhammad telah menghancurkan kesatuan orang Qurays. Mencaci akhlak mereka. Menghina agama dan bahkan mengolok-ngolok Tuhan kita…” Umar mengemukakan alasan.

“Apakah keluarga Abdu Manaf akan membiarkanmu begitu saja setelah kau bunuh Muhammad?” Na’im berusaha memojokkan Umar.

Kali ini Umar menyadari apa yang akan terjadi nanti. Ia sadar bahwa semua itu akan menyebabkan kematiannya dan kemusnahan seluruh kabilah Bani ‘Ady.  Tidak mungkin akibatnya ditanggung sendiri oleh Umar, namun sebaliknya akan melahirkan peperangan besar di tanah Mekah. Keamanan kota Mekah tidak akan terjamin. Kerusakan akan lebih besar dari pada yang diakibatkan oleh dakwah Muhammad. Kali ini keraguan datang lagi mengahantui. Tapi apa boleh buat ia telah menguatkan niatnya. Ia tak mungkin mengurungkannya lagi.

“Aku harus menebusnya dengan harga yang lebih besar sebelum malapetaka ini menyebar lebih jauh…”

“Hai Umar, kau menyebut dakwah Muhammad sebagai petaka,  sedangkan dia menyebutnya obat… Hukum bukan hanya berada di tanganmu. Hukum berada di tangan orang banyak. Orang-orang yang berada di sekitar Mekah dapat menentukan hukum. Dan dalam kondisi seperti ini, pedang tidak bisa dijadikan sebagai penentu hukum. Pedang itu tidak mengerti apa-apa. Di belakang pedang hanya ada darah dan kebencian. Kau pasti akan meninggalkan sebuah perpecahan yang tak berujung…. Muhammad itu hanya melaksanakan tugasnya. Dia membawa kebaikan-kebaikan di antara manusia. Dia tidak pernah memaksa… Sementara engkau memaksa mereka dengan menggunakan pedang. … Darah tak pernah bisa menghentikan rasa sakit hati tetapi sebaliknya akan memperparah rasa itu…” Na’im berusaha menyadarkan Umar.

“Masih ada yang ingin kau katakan?” Umar bertanya sambil berusaha untuk tenang.

Na’im tak menjawab.

“Akan kubunuh Muhammad!” Lagi-lagi Umar berteriak sangat keras.

Na’im mendekat. Dipandangnya Umar dalam-dalam. “Mengapa kau tidak pulang saja ke rumahmu? Lalu kau selesaikan dulu permasalahan yang ada di sana…?”

“Apa maksudmu?” Umar penasaran.

“Saudaramu, Fatimah dan……” Dengan intonasi yang jelas Na’im menjawab pertanyaan Umar.

“Adikku telah jadi pengikut Muhammad?” Umar memotong kata-kata Na’im.

“Betul…!! Dan juga suaminya Sa’id ibn Zaid telah …”

“Kau bohong! Kau berusaha menghalang-halangiku. Kau ingin mendapat belas kasihan dariku.”

“… mereka telah mengikuti agama Muhammad,” Na’im meneruskan ucapannya

Secepat kilat Umar membalikkan arah. Tubuh Na’im yang menghalanginya dihempaskan. Ia kembali menuju rumah adiknya. Kepalanya serasa mau pecah. Napasnya memburu. Matanya merah. Selama hidupnya dia belum pernah merasakan beban seberat ini. Dia seakan berada dalam sebuah malam yang gelap gulita dengan berbagai penderitaan hingga matanya tak sempat tertutup walau sekejap. Kegelisahan, kebingungan, dan sejuta rasa kesal seakan menyerbunya tanpa ampun. Dunia yang membentang luas bagai sebuah gua sempit yang sangat gelap, penuh debu, dan udaranya panas membakar jiwa.…“Anak perempuan Khattab telah masuk Islam… Seorang wanita yang tidak punya arti dan tak bernilai dapat mengambil keputusan dan dapat melakukan pilihan… Kini dia telah memilih jalan yang baru. Tidak kah seluruh tubuhnya akan gemetar tatkala bertemu denganku? tidak kah dia akan ciut ketika mendengar bentakanku?… Apakah ia lebih mencintai kata-kata Muhammad ketimbang mencintai saudaranya? Apakah dia lebih memilih ikut Muhammad dari pada memilih keselamatan dari siksa orang-orang Qurays? Apakah keyakinan barunya telah menyebabkan ia berani berkorban? Apa yang akan orang-orang katakan ketika mereka mengetahui bahwa adikku masuk Islam, padahal sejak pertama aku lah yang selalu menyiksa orang-orang yang mengikuti Muhammad? Ini pukulan yang sangat mematikan yang akan merusak kehormatanku. Akan kuperlihatkan bagaimana aku menyiksa wanita sialan itu…. Tidak.. tidak boleh bigitu kau Umar! Kau harus tenang!… Kini dia telah terbiasa membaca Alqur’an… Dia telah melaksanakan shalat yang diajarkan Muhammad…  Aku ingin melihatnya… Aku harus memastikannya dahulu… Ini hari yang sangat menentukan… Akan kutumpahkan darahmu hai Fatimah…  juga darah suamimu… Aku harus menghapus aib yang telah melumuri kabilah kita sebelum aku membunuh Muhammad.

]Perasaan Umar semakin tak menentu. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar lantunan kata-kata yang sangat indah… “Dan tunduklah semua muka seraya merendahkan diri dihadapan Tuhan Yang Maha Kekal dan senantiasa mengurus seluruh makhluk-Nya. Sungguh betapa meruginya orang-orang yang berlaku zalim[1].

Semakin dekat semakin jelas “Itu bunyi Alqur’an… Aku dapat membedakan  antara bunyi Alqur’an dari sejuta bunyi yang lain… bunyi Alqur’an memiliki ciri khas yang tak dimiliki oleh yang lain… aku akan mendengarkannya” Umar bicara dalam hati.

“… Barang siapa yang mengerjakan amal saleh dengan penuh keimanan, maka ia tidak akan merasa khawatir atas ketidakadilan terhadapnya, juga tidak akan merasa takut atas keserakahan orang-orang yang tamak. Demikianlah.. Kami menurunkan Alqur’an dalam bahasa yang sangat jelas. Di dalamnya, berulang kali telah Kami paparkan berbagai jenis ancaman dengan tujuan agar mereka bertakwa dan agar mereka mengambil pelajaran dari Alqur’an…Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya. Janganlah kau tergesa-gesa membaca Alqur’an sebelum wahyu yang turun  kepadamu ini sempurna. Dan katakalanlah ”Ya Allah Tuhanku, tambahkanlah ilmu pengetahuan kepadaku…[2]

Untaian kalam Ilahi itu mengetuk pintu hati Umar dengan penuh kelembutan. Lantunan ayat-ayat itu seakan cumbuan samawi yang sayup-sayup merasuk ke dalam sukma. Ia bagaikan seteguk air yang mengalir di kerongkongan seorang musafitr di tengah adang sahara. Tak terasa air matanya berderai… Otot-ototnya yang tegang mengendur seketika… Pedang yang terhunus terlepas dari genggamannya yang kuat.

Bluk…!!” suara pedang menyadarkan Umar dari keterpersonaanya.

Secepat kilat Umar mengambil lagi pedangnya lalu menggenggamnya kuat-kuat sabil berusaha menepis semua rasa yang ada.

Ini sihir… sihir yang sangat hebat…” Umar berusaha meyakinkan dirinya.

Betapa hebatnya untaian kalam Ilahi itu. Pedang yang digenggam dengan sangat kuat jatuh seketika. Hati Umar yang keras serta-merta melunak. Itulah di antara kedahsyatan kalam Ilahi…, kata-katanya lebih indah dari kata-kata seorang penyair atau mantra seorang dukun.

Celakalah kau Umar…! Bagaimana mungkin kau bisa begitu lemah? Kau akan jadi cemoohan orang-orang Mekah… Jadi cibiran mereka… Umar  yang hebat tunduk di bawah kata-kata Alqur’an!!” Umar berusaha memulihkan lagi kekuatannya. Niatnya yang sudah mengendur kini diperkuat lagi.

”Brakk…!!

Sambil berteriak Umar mendobrak pintu sekuat tenaga. Khabab yang sedang membaca Alqur’an lari terbirit-birit. Ia masuk ke kamar lalu bersembunyi.  Fatimah dan suaminya berdiri di hadapan Umar dengan muka yang sangat pucat. Badannya gemetar.

“Bunyi apa yang kudengar tadi?” Umar bertanya sambil teriak. Matanya hampir keluar. “Aku mendengar bunyi yang sangat aneh!” Umar melanjutkan kata-katanya.

“Bukan bunyi apa-apa kak!” Fatimah tergagap.

“Bohong kau! demi Tuhan… Aku tadi mendengarnya! Hai, wanita murtad, tidak kah kau mendengar omonganku? Aku telah diberitahu bahwa kau dan suamimu telah jadi pengikut Muhammad”

Pandangan Umar beralih ke Zaid. Kerah baju Zaid dijamah. Zaid ditarik lalu Umar melayangkan tijunya ke muka Zaid.

“Bukk… bukk… bukk.. !!!“ suara keras tinju Umar terdengar beberapa kali.

Zaid tersungkur. Dari pelipis dan hidung, darah Zaid mengucur deras. Fatimah berusaha menghalangi suaminya dari serangan Umar. Kini ia jadi tangan  Umar.

Plak… Buk…”

Muka Fatimah terluka. Darah mengalir deras dari keningnya.

“Hai perempuan yang telah menukarkan agama… mungkin  kau telah lupa bahwa aku punya cara tersendiri guna mengajarimu tata krama” Suara Umar keras sekali dan matanya melotot.

Dengan darah yang terus mengalir, dari mulut Fatimah keluar kata-kata “Ya… memang benar, kami sudah masuk Islam… Kami percaya terhadap Allah dan rasul-Nya… Kini lakukanlah apa yang ingin kau lakukan!”

Apakah aku tidak salah dengar?… Betulkah yang berbicara Fatimah?… Setahuku, Fatimah belum pernah melawanku.  Dia belum pernah bersikap seperti saat ini. Apakah dia telah mengalami perubahan yang sangat hebat? Kenapa? Pengaruh apa yang telah diberikan keyakinan barunya? Lalu apa ruginya aku kalau memang benar dia telah menganut agama baru?” berbagai pertanyaan memenuhi kepala Umar bagai gaung lebah.

Kepala Umar serasa ditusuk berjuta jarum. Kini dia gelisah, resah, dan kalut. “Lakukan apa yang ingin kau lakukanKata-kata yang sangat tidak mungkin diucapkan oleh Fatimah… Tetapi memang wajar kalau Fatimah mengucapkan itu, karena sebelumnya ia telah membaca kata-kata yang mampu menggoncangkan gunung. Aku pun telah mendengar bunyi yang begitu lembut menembus kalbu”  “… Barang siapa yang mengerjakan amal saleh dengan penuh keimanan, maka ia tidak akan merasa khawatir atas ketidakadilan terhadapnya, juga tidak akan merasa takut atas keserakahan orang-orang yang tamak.[3].

Umar mengarahkan pandangannya ke wajah Fatimah. Saat itu Fatimah berdiri kokoh bagai sebuah gunung yang menjulang tinggi. Mukanya yang berlumur darah tidak menampakkan tanda-tanda rasa takut. Dan…….

TIDAK TERBACA

…. Fatimah tidak gentar melihat pedang yang tajam telah terhunus. Darah terus mengalir dari mukanya.

Kejam sekali kau Umar..! Gara-gara kau, kini darah berceceran… tega benar dirimu…!” Umar mencaci dirinya sendiri

“Maafkan aku sayang…! Aku telah menyiksamu dengan keterlaluan… sebenarnya aku tak tega mengalirkan darahmu yang suci.” Umar mengungkapkan penyesalannya “Fataimah, semua itu kulakukan demi menutupi rasa malu…” Umar mengemukakan alasan.

Dengan wajah bersimbah darah dan air mata, Fatimah berkata “Hai Umar, engkau kakakku… Aku mencintaimu sepenuh hati… tapi cintaku kepada Allah melebihi segalanya… Allah yang telah menciptakan kita… Kak! Kata-kata yang haq telah bersemayam dalam dadaku. Tertanam dalam jiwa. Terpatri dalam hati. Aku tak akan melepaskannya lagi”

Umar mengangguk-anggukan kepalanya. Dengan nada pelan dia berkata “Mana lembaran yang kau baca tadi?”

“Akan kau sobek? Aku tak bisa memberikannya padamu… Aku takut.”

“Tidak! Tidak akan aku sobek. Demi Tuhan… aku akan mengembalikan-nya padamu setelah seluruhnya kubaca…” Umar berusaha meyakinkan.

Perlahan mushaf dibuka. Tangan Umar gemetar. Surat Thaha dibaca. Rasa galau datang tiba-tiba. Matanya berkaca-kaca. Dia merasakan adanya rembesan air mata. Pipinya basah. Tiba-tiba ia masuk dalam sebuah kisah yang sangat  menyedihkan… kisah Musa dengan Firaun… Bani Israil terhuyung karena siksaan yang bertubi-tubi. Kisah tentang penyiksaan, kekerasan, dan kesewenang-wenangan… Sesaat kemudian ia sampai pada ayat yang berbunyi… Sungguh… Akulah Tuhanmu… Tiada Tuhan selain Aku… Maka sembahlah Aku! Tegakkanlah shalat agar kau senantiasa mengingatku… Hari kiamat yang hampir-hampir Aku rahasiaahkan itu pasti datang guna memberikan balasan kepada setiap yang telah dilakukan oleh manusia…[4] Umar tenggelam dalam buaian kata-kata yang begitu indah. Seakan dia sedang mengembara di sebuah alam yang selama hidupnya tak pernah ia lalui… Keselamatanlah bagi orang-orang yang mengikuti petunjuksungguh celaka lah mereka yang mengada-ngada[5]. Betapa indahnya untaian kata-kata itu… alunan bunyinya seakan mantra-mantra sihir yang memperdaya manusia….. Kehebatan ayat itu telah menjadikan para penyihir membangkang perintah Firaun… Mereka berkata; kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu di atas bukti yang nyata yaitu mukjizat yang datang dari Tuhan yang telah menciptakan kami. Maka katakanlah apa yang hendak kau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan urusan  kehidupan dunia saja. Kini kami benart-benar telah beriman kepada Tuhan Kami. Semoga Dia mengampuni kesalahan kami dan dosa perbuatan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami. Sesungguhnya pahala Allah lebih baik dan azab-Nya lebih lama.[6]

Kepala Umar serasa berputar. Berbagai pertanyaan yang mengusut di kepalanya kini mulai memudar. Hilang satu persatu… Keyakinan menggantikan keraguan… Hakikat kebenaran menyiram jiwa Umar bagai air yang bening berjatuhan dari ujung bebatuan… jiwanya yang keras perlahan-lahan mengendur… Masihkah Umar sanggup menghunuskan pedangnya setelah mendengar untaian kata-kata yang begitu memesona? ….

TDK TERBACA

Fatimah terluka… begitupun Zaid. Umar telah melakukan kesalahan besar. Sebuah kesalahan yang tak pantas dilakukan oleh seorang pahlawan dan diplomat Qurays… Mengapa semua ini terjadi? Haruskah Umar mendapat balasan yang setimpal? Wajarkah sebuah kesalahan yang dilakukan oleh sesorang yang sedang mencari kebenaran dibalas dengan sebuah siksaan? Bukan kah kini ia melintasi jalan panjang menuju sebuah kebenaran?

Umar menengadahkan kepalanya. Pandangannya jauh menerawang ke angkasa raya. Hatinya menjerit. Tetesan air mata semakin membasahi kedua pipinya. Lalu bibirnya bergetar seraya mengucap “Asyhadu an laa ilaaha illa Allah. Wa anna Muhammadan Rasulullah”

Khabab yang sedari tadi bersembunyi di sebuah kamar sambil membaca Alqur’an, meloncat sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan. “Demi Allah wahai  Umar… aku pernah mendengar Rasulullah berdoa “Ya Allah perkuatlah Islam oleh Abu Hakm ibn Hisyam atau oleh Umar ibn Khattab. Maha Besar Allah.. demi Allah ya Umar…aku yakin ini merupakan jawaban atas doa Rasul…

* * *

Umar bangun dari duduknya. Segala sesak yang menghimpit dadanya secara perlahan mulai mencair… nyanyian indah lagu surgawi menyejukkan jiwanya… kedamaian menjalari seluruh syaraf dan gelegak jiwa begitu syahadat terucap… kini hadir sebuah nuansa baru untuk kehidupan yang penuh asa dan harapan.


[1] QS Thaha: 111

[2] QS Thaha: 112 – 114

[3] QS. Thaha : 112

[4] QS Thaha : 14

[5] QS Thaha : 61

[6] QS Thaha : 72 – 73

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: